Kurikulum

Program pendididkan doktor di Fakultas llmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada merupakan proses pendidikan doktor yang berbasis riset [doctoral by research]. Pilihan program ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkarakter melalui serangkaian proses fasilitasi pendidikan lanjut [advanced], terfokus, kesarjanaan yang integratif [integrative scholarly] dan kontekstual. Sebagaimana dijelaskan dalam peraturan akademik UGM, kualifikasi lulusan diharapkan memenuhi beberapa kompetensi, baik kompetisi utama, kompetensi pendukung, dan kompetensi lain-lain.   Kompetensi Utama: Kompetensi utama mahasiswa lulusan Program Studi S3 Ilmu Politik UGM adalah mampu menjadi peneliti mandiri. Mahasiswa juga mampu mengembangkan keilmuannya dibidang Ilmu Politik atau praktek profesionalnya melalui riset hingga menghasilkan karya kreatif, original dan teruji. Melalui kompetensi utama ini lulusan diharapkan:

  1. Mampu menghasilkan temuan baru dalam bidang kajiannya.
  2. Mampu menjadi spesialis dalam topik kajian
  3. Mempunyai kemampuan untuk mengembangkan konsep ilmu didalam bidang keahliannya melalui penelitian

  Kompetensi Pendukung: Kompetensi pendukung yang akan dimiliki mahasiswa lulusan Prodi S3 Ilmu Politik adalah menguasai metodologi keilmuan dan metode-metode penelitian ilmu sosial, sehingga nantinya lulusan diharapkan mampu:

  1. Bersikap terbuka, tanggap terhadap perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian serta permasalahan yang dihadapi masyarakat.
  2. Memiliki wawasan dan kemampuan dasar keilmuan dan ketrampilan teknis yang diperlukan untuk mengadaptasi dan/ atau mencipta metodologi baru yang akan dipergunakannya dalam melakukan telaah dan taat kaidah.
  3. Menguasai pendekatan teori, konsep dan paradigma yang paling sesuai dengan bidang keahlian.
  4. Akrab dengan permasalahan dan karya serta pemikiran mutakhir para ahli dalam kawasan keahliannya.
  5. Mempunyai kemampuan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan dalam kawasan keahliannya untuk menemukan jawaban dan / atau memecahkan permasalahan yang kompleks termasuk yang memerlukan pendekatan lintas disiplin ilmu.
  6. Mempunyai kemampuan melakukan pendekatan multidisipliner/ interdisipliner dalam berkarya dalam bidang keahlian Ilmu Politik.

  Kompetensi Lainnya Selain kompetensi utama dan pendukung, doktor lulusan Prodi S3 Ilmu Politik UGM diharapkan:

  1. Mampu menyampaikan argumentasi ilmiah secara jelas dan meyakinkan
  2. Berkarakter dan berbudi luhur sebagai cerminan kematangan akademik
  3. Mempunyai kemampuan mengkomunikasikan pemikiran serta hasil karyanya, baik dengan sejawat maupun khalayak yang lebih luas
  4. mempunyai kemampuan mengelola, memimpin dan mengembangkan program penelitian

  Mengenai segala ketentuan ini telah termaktub dalam buku pedoman akademik S3, program pendidikan doktoral Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gadjah Mada pada Bab II pasal 2. Catatan: Pengertian tentang kompetensi utama, pendukung, dan lainnya dapat dilihat pada Kepmendiknas No. 045/U/2002.    

  • Organisasi Kurikulum

Beban studi program doktor bagi peserta yang berpendidikan magister (S2) sebidang sekurang-kurangnya 40 SKS yang dijadwalkan untuk empat semester dan dapat ditempuh kurang dari empat semester dengan lama studi selama-lamanya sepuluh (10) semester. Beban studi program doktor bagi peserta yang berpendidikan magister (S2) tidak sebidang sekurang-kurangnya 52 SKS yang dijadwalkan untuk lima semester dan dapat ditempuh kurang dari lima semester dengan lama studi selama-lamanya sebelas (11) semester (Kepmendiknas No. 232/U/2000).  

  • Kurikulum Terstruktur

Desain pembelajaran pada Prodi S3 Ilmu Politik UGM pada dasarnya adalah program berbasis riset(doctor by research). Untuk menjamin kualitas riset mandiri yang dihasilkan, mahasiswa diharuskan melaksanakan serangkaian kegiatan akademik dari tahap pre-candidacy, tahap riset dan penulisan disertasi, serta pengujian disertasi. Tahap pre-candidacy meliputi perkuliahan, ujian komprehensif, penulisan disertasi, dan ujian proposal disertasi.   Dalam proses perkuliahan, mahasiswa akan terbagi pada jalur perkuliahan dan non perkuliahan. Proses perkuliahan ini terkait dengan proses penyiapan para kandidat sebagai peneliti mandiri. Dari segi proses, fase dan substansi riset mandiri harus memiliki bobot kompetensi yang memadai. Bagi mahasiswa yang tidak memiliki kompetensi maksimal yang dipersyaratkan akan difasilitasi dengan sejumlah mata kuliah yang diselenggarakan secara terstruktur. Dengan demikian, struktur kurikulum ditujukan untukmenopang kapasitas teoritik dan metodologi yang dipakai di dalam menganalisis isu politik yang ditawarkan kepada mahasiswa kandidat doktor. Namun, jika terdapat bukti bahwa mahasiswa sudah memiliki kompetensi maksimal yang dipersyaratkan, maka mahasiswa tidak diwajibkan mengambil mata kuliah yang ditentukan, yang secara otomatis mahasiswa melalui jalur non-perkulihan/waived scheme. Adanya fasilitas berupa perkuliahan dengan mata kuliah dapat diselenggarakan secara terstruktur jika terdapat mahasiswa berjumlah lebih dari 5 mahasiswa. Ketika sudah mencapai lebih dari 5 mahasiswa maka fasilitasi perkuliahan dijalankan dengan pendampingan oleh para ahli/exspert atau dengan kelas kuliah pada umumnya.   Struktur kurikulum melaui jalur perkuliahan terbagi atas empat kompetensi perkuliahan yang mencakup [1] isu penelitian, [2] teori politik, [3] metodologi ilmu politik dan [4] metode penelitian sosial. Empat kompetensi ini dalam sistem kurikulum akan disajikan dengan titik tekan yang berbeda akan tetapi sejatinya tetapberada dalam satu kesatuan yang logis untuk menemukan state of the artdari isu/kajian.   Keterkaitan logis sistem kurikulum yang mempertajam setiap fase dan saling keterhubungannya dapat dipaparkan sebagai berikut:  

  1. Review issues/kajian dari para kandidat doktor. Basis riset yang akan dikembangkan menjadi desertasi difasilitasi oleh para pakar terkait untuk melakukan eksplorasi dan pemetaan ragam isu/kajian. Ragam isu/ kajian yang dipilih ini kemudian akan dibedah untuk menemukan state of the art dari isu/kajian tersebut dan critical issues yang muncul sebagai frame penajaman terhadap isu/kajian yang dipilih.
  2. Kompetensi teoritikal. Kebutuhan untuk mencari teori yang relevan sebagai pisau analisis juga akan sangat berguna untuk memetakan, memandu jalan, sekaligus secara konseptual membangun oto-kritik terhadap perkembangan teori yang ada. Perkembangan ilmu politik telah menyumbang kekayaan stock teori bagi ilmuwan. Sehubungan dengan hal ini, kandidat doktor diajak untuk memetakan ragam teori yang telah tersedia baik yang dikembangkan secara klasik melalui studi pemikiran politik [teori normatif] maupun teori yang dibangun dari hasil kajian empiris. Pemetaan ini tentu saja untuk menggali esensi dan pesan teoritik yang terkandung serta pemanfaatnya. Perkembangan ini dikonfirmasikan dengan pilihan isu yang akan menjadi tema riset proposal desertasi. Untuk itu, jalan dalam membantu menemukan teori yang relevan ini dijembatani dengan menuliskan Literatur Review. Darinya, mahasiswa diharapkan mampu meletakkan posisi diri atau identitas keilmuan sebagai kandidat doktor.Sebagai contoh, kandidat doktor yang akan meneliti demokrasi akan diajak untuk melakukan klasifikasi teori, rentang perbedaan, titik tekan maupun arena perdebatannya.Masing-masing teori memiliki kelebihan dan kelemahan dan nilai kegunaan. Pemetaan teroritik akan menjembatani kandidat doktoral dalam memahami kembali geneologi pemikiran dari masing-masing teori yang dikembangkan sehingga mampu digali kembali watak, logika maupun cara kerjanya terlepas dari obyek yang diteorisasikan. Ragam isu yang secara tematik menarik bagi subjektifitas kandidat doktoral selalu bisa diperdebatkan dengan ragam teori. Kerja kesesuaian antara teori yang dipilih sebenarnya meng-isyaratkan bekerja metodologi Ilmu Politik tertentu. Teori yang dikembangkan dengan pendekatan rational choice sebagai contoh akan memiliki cara kerja khas yang bersumber dari methodological individualisme. Oleh karenanya pembelajaran tentang teori politik seyogyanya simultan dengan pembelajaran metodologi ilmu. Setelah berhasil memetakan teori-teori yang tersedia dan mengetahuan kegunaan serta kelemahan masing-masing, peserta diajak untuk menentukan kerangka teori untuk kepentingan risetnya sendiri, dengan menggunakan salah satu, kombinasi (kalau bukan alternatif) dari tawaran-tawaran toeri yang tersedia.Kesanggupan atas pilihan teoritik ini mempertimbangkan dengan matang konsekuensi metodologi ilmu yang menjiwai rancang bangun teoritik. Dalam proses ini review atas ragam teori menjadi quality control bahwa mahasiswa juga secara sadar memetakan bangunan metodologi dan metode penelitian sosialnya. Teori atau kumpulan teori yang dianggap relevan untuk kepentingan penelitian diharapkan bisa dirangkai sebagai suatu konstruksi teoritik yang mengkerangkai riset yang diagendakan. Penghayatan terhadap teori yang bersangkutan diharapkan akan mewarnai corak berfikir dan meningkatkan sensitifitas terhadap hal-hal yang hendak dikajinya, dan pada gilirannya akan menjadi semacam identitas keilmuan seseorang. Hasil yang diharapkan dari pemetaan teoritik ini adalah posisi diri peneliti dalam peta teori [standing position]. Oleh karenanya, justifikasi atas teori baik dari segi kelemahan dan kelebihan teori akan menuntun Mahasiswa untuk membangun tawaran konstruksi teori. Secara kualitatif, indikator dari pencapaian proses ini adalah lahirnya kerangka teori yang bermanfaat bagi deklarasi konseptual arah dan tujuan penelitian mahasiswa terkait.
  3. Metodologi Ilmu Politik. Kompetensi kedua dari mahasiswa layak disebut sebagai “kandidat doktor” adalah kapasitas, kompetensi, dan dedikasinya dalam memberikan justifikasi pilihan metodologis. Proses untuk mampu menjustifikasi ini simultan dengan proses menyusun kerangka teori. Fase awal untuk menemukan rujukan metodologi dari ragam teori yang relevan untuk menganalisis isu politik yang dikaji adalah menyusun Literatur Review. Proses ini akan membantu Mahasiswa untuk menemukan pendekatan dan model analisis dari sebuah teori. Pendekatan yang berbeda dan model analisis yang berbeda akan memberikan cara pemahaman realitas yang berbeda juga.Pemahaman geneologi dari teori yang lahir dari kritik atas pemikiran politik maupun tafsir atas realitas sosial membawa kandidat doktoral untuk memahami watak, logika dan cara kerja dari ragam teori. Pemahaman ini sekaligus menjadi titik reflektif untuk mempelajari bahwa sebuah teori mengandung pilihan-pilihan pendekatan tersendiri dan model analisisnya dalam memaparkan pemikiran, fenomena sosial maupun tafsir atas realitas empirik. Metodologi Ilmu Politik juga akan membawa mahasiswa untuk memahami kembali pengetahuan filosofi tentang prinsip dasar penelitian sosial umumnya, dan penelitian politik khususnya.
  4. Kompetensi ketiga adalah Pilihan Metode Penelitian. Menentukan pilihan metode penelitian dengan mempertimbangkan konsekuensi jalur pemikiran yang telah dipilih. Metode penelitian muncul dari konsekuensi dari metode keilmuan yang dianutnya. Dengan demikian, perancangan metode penelitian harus mempertimbangkan kesesuaian antar alur teori dan metodologi keilmuan. Disisi lain, isu politik yang akan dikaji juga mestinya harus kompatibel dengan metode penelitian yangakan digunakan. kompatibilitas ini mampu dibangun sejak dini dengan menyusun pemetaan metode penelitian sosial sebagai perkembangan lanjut dari pemetaan metodologi keilmuannya. Pemetaan ini akan membantu perolehan gambar besar tentang taksonomi metode penelitian. Dengan peta ini pilihan corak penelitian seperti apa yang dikehendaki akan lebih mudah mendapatkan pertanggungjawaban metodologisnya. Disamping itu, Proses ini juga akan menjadi alat bantu dalam mengidentifikasi kebutuhan penyusunan desain penelitian yang relevandengan pilihan isu politik /tema yang telah ditetapkan. Semisal ragam desain penelitian dapat dipilih dari alternatif yang telah tersedia dalam taksonomi metode penelitian semisal; Survey dan polling, Grounded research, Studi komparasi, Studi kasus, Content analisys, Analisis wacana, Etnografi, Participatory action research dan rapid appraisal, Policy research: regulatory impact assessment, evaluasi kebijakan dll. Indikator kualitas dalam metode penelitian ini ditunjukkan dengan clarity atas metode penelitian yang terepresentasi dalam proposal riset mandiri disertasi.
  • Struktur Kurikulum

Semester

Kode MK

Nama Mata Kuliah*

Bobot SKS

Unit/ Jur/ Fak Penyelenggara

 
 

I

SPO 311

Metodologi Ilmu Politik

4

Program Studi

 

 

SPO 319

Metodologi Penelitian

4

Program Studi

 

 

SPO 318

Teori Politik

4

Program Studi

 

 

SPO 600

Pendukung Disertasi (Matrikulasi)

4

Program Studi

 

II

SPO 300

Disertasi

28

Program Studi

 

Total SKS

44

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kurikulum Tidak Terstruktur

Kurikulum Tidak terstruktur merupakan mata kuliah pengganti yang disesuaikan dengan tema/isu kajian yang diambil oleh para kandidat doktor. Penataan dan pelaksanaan program ini dilakukan dengan mengirimkan para kandidat doktor untuk melakukan riset-riset penunjang desertasi maupun forum akademik semisal riset lintas universitas, seminar internasional atau penulisan jurnal akademik di tingkatan nasional dan internasional. Frame studi mandiri memungkinkan peluang bagi mahasiswa kandidat doktoral untuk mengikuti beragam program akademik yang sepadan dengan bobot SKS yang harus ditempuh.